• Pengukuhan

    Pimpinan Daerah Muhammadiyah dalam melaksanakan keputusan Muktamar ke-48 perlu mengangkat Anggota Pimpinan Majelis/Lembaga/Biro untuk menyelenggarakan program, kegiatan, amal usaha, dan membantu bidang-bidang tertentu yang bersifat pelaksanaan kebijakan untuk mencapai tujuannya.

  • Serah Terima Pengurus MPK lama Kepada Pengurus MPK Baru

    Agenda : 1. Serah Terima Pengurus MPK lama Kepada Pengurus MPK Baru 2. Menyusun Progam Kerja.

  • Sesuai lampiran SK PDM No 016/KEP/III.O/D/2023

    tentang pengesahan susunan dan pengangkatan anggota majelis, supervisor Prof Dr H Sofyan Anif MSi, Konsultan H Ahmad Sukidi MPd, Ketua Suyanto MPdI, Wakil Ketua 1 Drs H Sukendar MPd, Wakil Ketua 2 Pramuseto Rahman SPd, Sekretaris Abdul Afif Amrullah SPsi, Wakil Sekretaris Fajar Tri Winarno SSos, Bendahara Joko Kendro Maryanto SE, Wakil Bendahara Muhammad Halim Maimun SE MM.

  • K.H. Ahmad Dahlan

    Mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 18 Zulhijjah 1330 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1912. Ahmad Dahlan bernama kecil Muhammad Darwisy lahir pada tahun 1868 di Kampung Kauman Yogyakarta dan meninggal dunia pada tanggal 25 Febuari 1923 dalam usia 55 tahun.

  • Pengembangan Kader

    Muhammadiyah (pada saat berdiri ditulis Moehammadijah) adalah nama gerakan Islam yang lahir di Kauman Yogyakarta tanggal 18 November 1912. Pada saat waktu berdirinya dan mengajukan pengesahan kepada pemerintah Hindia Belanda menggunakan tanggal dan tahun Miladiyah.

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

MENCERAHKAN MASA DEPAN INDONESIA: PERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH DALAM MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045

 

Abdul Afif Amrulloh

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Tengah

dpdimmjawatengah@gmail.com

 

Abstrak

Indonesia Emas 2045 merupakan visi strategis bangsa dalam menyongsong satu abad kemerdekaan dengan menekankan pembangunan sumber daya manusia unggul, transformasi ekonomi, stabilitas sosial, dan kepemimpinan berintegritas. Namun, tantangan berupa ketimpangan kualitas pendidikan, kesiapan menghadapi ekonomi digital, serta polarisasi sosial menuntut keterlibatan aktif generasi muda, termasuk organisasi mahasiswa. Artikel ini menganalisis peran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui pendekatan analitis berbasis kajian literatur. Pembahasan difokuskan pada kontribusi IMM dalam pengembangan kepemimpinan mahasiswa, kewirausahaan sosial, partisipasi kebijakan publik, moderasi beragama, dan aksi kemanusiaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa berkontribusi signifikan dalam pembentukan karakter kepemimpinan, kapasitas intelektual, dan tanggung jawab sosial generasi muda. Dalam konteks tersebut, IMM memiliki posisi strategis sebagai ruang kaderisasi yang memadukan nilai keislaman, intelektualitas, dan komitmen kebangsaan. Artikel ini menegaskan bahwa penguatan sistem kaderisasi dan konsolidasi gerakan intelektual IMM merupakan prasyarat penting dalam mencerahkan masa depan Indonesia menuju 2045.

Kata kunci: Indonesia Emas 2045, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kepemimpinan, pembangunan nasional.

 

Abstract

Indonesia Emas 2045 represents a strategic national vision toward the centennial of Indonesia’s independence, emphasizing human capital development, economic transformation, social cohesion, and ethical leadership. Nevertheless, challenges such as educational inequality, digital economic readiness, and social polarization require active engagement from youth, including student organizations. This article analyzes the role of Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) in supporting the realization of Indonesia Emas 2045 through a literature-based analytical approach. The discussion highlights IMM’s contributions in leadership development, social entrepreneurship, public policy engagement, religious moderation, and humanitarian action. The findings suggest that student organizations significantly shape leadership character, intellectual capacity, and civic responsibility among young generations. In this context, IMM holds a strategic position as a cadre organization integrating Islamic values, intellectual engagement, and national commitment. Strengthening IMM’s cadre system and intellectual movement is therefore essential in illuminating Indonesia’s future toward 2045.

Keywords: Indonesia Emas 2045, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, leadership, national development.

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia memasuki abad ke-21 dengan harapan besar sekaligus tantangan struktural yang kompleks. Visi Indonesia Emas 2045 merupakan agenda pembangunan jangka panjang yang menempatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pemerataan kesejahteraan, stabilitas sosial, dan daya saing global sebagai pilar utama (Bappenas, 2021). Namun, untuk merealisasikan visi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan angka pertumbuhan ekonomi atau bonus demografi semata; yang lebih penting adalah pembangunan manusia yang unggul, berintegritas, dan berkarakter kebangsaan.

Bonus demografi yang diproyeksikan mencapai puncaknya sekitar 2030–2045 merupakan peluang besar bagi Indonesia (United Nations Development Programme [UNDP], 2020). Namun, peluang ini dapat berubah menjadi beban sosial jika kualitas pendidikan, kemampuan kompetitif, dan kapasitas berinovasi tidak meningkat secara signifikan (World Bank, 2021). Organisasi mahasiswa, sebagai bagian dari civil society, memiliki peran strategis dalam pembentukan kapasitas generasi muda yang mampu menjawab persoalan kompleks tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa dalam organisasi berdampak positif terhadap perkembangan keterampilan sosial, kepemimpinan, dan komitmen terhadap tujuan publik (Astin, 1993; Pascarella & Terenzini, 2005).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu organisasi mahasiswa Islam yang secara historis berkontribusi terhadap pembentukan karakter kepemimpinan dan kader intelektual dalam perspektif Islam Berkemajuan (Maarif, 2008). Rasionalitas, moralitas, serta tanggung jawab kebangsaan adalah tiga pilar yang terus dikembangkan IMM dalam proses kaderisasinya. Namun demikian, sejauh mana IMM dapat memainkan peran strategis dalam agenda Indonesia Emas 2045 masih jarang dibahas secara komprehensif dalam kajian akademik maupun strategis gerakan. Pertanyaan yang muncul adalah: apa peran IMM dalam pembangunan SDM, penguatan ekonomi, kohesi sosial, dan kepemimpinan moral yang diperlukan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045?

Artikel ini menganalisis kontribusi strategis IMM terhadap pembangunan Indonesia Emas 2045 dengan mempertimbangkan konteks globalisasi, dinamika sosial, dan kebutuhan moral terhadap generasi masa depan.

 

ANALISIS

1.   Tantangan Indonesia Menuju 2045

1.1    Bonus Demografi dan Kualitas SDM

Bonus demografi hanya akan menjadi aset signifikan apabila kualitas SDM dipersiapkan melalui pendidikan yang komprehensif dan relevan. OECD dan Asian Development Bank (2020) menunjukkan bahwa disparitas pendidikan masih menjadi hambatan utama dalam pemerataan kualitas SDM di Indonesia.

Pascarella dan Terenzini (2005) menyatakan bahwa campus involvement atau keterlibatan mahasiswa dalam organisasi akademik dan non-akademik memperkuat perkembangan kognitif dan kepemimpinan mereka. Astin (1993) juga menegaskan bahwa partisipasi aktif mahasiswa dalam organisasi merupakan variabel prediktor kuat terhadap keterampilan kepemimpinan generasi muda. Lebih jauh, Tinto (1997) menegaskan bahwa keterikatan mahasiswa dalam komunitas akademik dan sosial berimplikasi pada kemampuan akademik dan kapasitas memimpin yang lebih berkembang. Analisis ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa seperti IMM memiliki peran penting dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

 

1.2    Kesenjangan Ekonomi dan Keterampilan Digital

Revolusi industri 4.0 mensyaratkan kemampuan literasi digital, kreativitas, dan inovasi ekonomi (Xing & Marwala, 2017). Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menciptakan tenaga kerja yang adaptif terhadap teknologi baru dan mampu bersaing secara global.

World Bank (2021) mencatat bahwa pembekalan kemampuan teknologi dan inovasi menjadi faktor penting bagi generasi produktif. Dalam konteks ini, organisasi mahasiswa menjadi tempat praktik pembelajaran keterampilan non-formal yang tidak selalu didapat melalui kurikulum akademik formal.

 

 

2.   Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM): Identitas dan Wacana Gerakan

IMM berdiri pada 14 Maret 1964 dan berakar pada tradisi intelektual Islam Berkemajuan yang menempatkan rasionalitas, moralitas, dan nasionalisme sebagai pilar utama (Maarif, 2008). Identitas IMM dirumuskan sebagai organisasi yang menyiapkan kader mahasiswa untuk berkontribusi dalam kehidupan akademik, sosial, dan kebangsaan secara progresif.

Dalam perspektif gerakan, IMM tidak hanya berorientasi pada aktivitas internal kampus, tetapi juga pada kontribusi nasional dan global. Bedasaskan tradisi Muhammadiyah yang memadukan nilai Islam dan modernitas, IMM menempatkan dirinya sebagai agent of change yang berpijak pada nilai moral, keadilan sosial, dan kemanusiaan. M. Fatahillah dalam buku IMM di era 4.0 DPP IMM (2021) menjelaskan setidaknya ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam membangun peradaban melalui IMM; Pertama, kesadaran berideologi dalam IMM. Hal ini agar mampu dan tidak mengalami kebingungan dalam mengambil arah dan memproduksi gagasan yang berdasar pada ikatan. Kedua, kesadaran hidup sebagai seorang intelektual. Sebagai kader IMM yang juga dikenal sebagai seorang intelektual maka sudah seharusnya mengerti dengan kondisi yang dihadapinya baik lingkungan sekitar maupun kondisi secara global, hal itu akan menjadi bekal dalam memproduksi gagasan-gagasan baru yang menghidupi. Ketiga, kesadaran memproduksi Wacana. Wacana diartikan sebagai satu kesatuan paket komplit dari sebuah gagasan dan juga aksi, maka setelah gagasan tersebut lahir turut di ikuti dengan bentuk upaya aksi dari suatu gagasan. Produksi wacana tersebut juga perlu di narasikan dalam media digital mengingat kehidupan sekarang ini media digital memiliki pengaruh dan peran penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keempat, kesadaran akan refleksi. Upaya membangun peradaban tentunya mengalami proses refleksi yang begitu panjang sehingga pelajaran dan hikmah-hikmah dalam suatu proses dapat ditelaah dengan baik sebagai bekal membangun peradaban. Usaha-usaha yang dilakukan dalam membangun peradaban tersebut memiliki harapan akan lahir sebuah peradaban yang cerah lagi mencerahkan, hidup lagi menghidupi, manusia yang memanusiakan yang akan dikenal sebagai peradaban berkemajuan.

 

3.   Peran Strategis IMM dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

IMM berkontribusi secara langsung dan tidak langsung terhadap berbagai dimensi yang relevan dengan Indonesia Emas 2045. Peran strategis IMM dapat dirumuskan dalam lima bidang utama:

3.1    Pendidikan dan Pengembangan Kepemimpinan

IMM melalui program kaderisasi seperti Darul Arqam Dasar, Madya, dan Paripurna menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya belajar teoritis tetapi juga praktik sosial. Program ini memperkuat keterampilan kepemimpinan, retorika, serta pemikiran kritis yang sangat relevan dalam pembangunan manusia.

Hefner dan Zaman (2011) dalam kajiannya menyatakan bahwa keberadaan organisasi mahasiswa Islam moderat memperkuat kapasitas kepemimpinan mahasiswa dalam merespon dinamika sosial dan politik secara produktif. Hal ini menunjukkan bahwa IMM tidak hanya menyiapkan kader untuk organisasi internal, tetapi juga untuk keterlibatan dalam agenda publik yang lebih luas.

 

 

3.2    Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Sosial

Gorman, Hanlon, dan King (1997) menunjukkan bahwa pendidikan dan keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas kewirausahaan dapat meningkatkan kreativitas serta kesiapan mereka dalam menghadapi tantangan ekonomi. IMM telah mengembangkan program kewirausahaan mahasiswa, dukungan terhadap UMKM berbasis komunitas, serta pelatihan kemampuan ekonomi kreatif. Program tersebut memperluas cakupan kontribusi IMM dalam pembangunan ekonomi produktif di tingkat lokal maupun nasional. Penelitian tentang kewirausahaan sosial juga menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas mahasiswa dalam aksi sosial dapat mendorong pembentukan kerja kolektif yang bukan hanya mengejar profit tetapi juga maslahat publik (Ratten, 2020).

 

3.3    Partisipasi dalam Wacana Kebijakan Publik

Pertumbuhan demokrasi membutuhkan partisipasi generasi muda dalam wacana kebijakan publik. Putnam (2000) menyatakan bahwa modal sosial merupakan komponen penting dalam kualitas demokrasi. IMM secara konsisten memfasilitasi forum diskusi, kajian kebijakan, dan advokasi publik bagi mahasiswa. Aktivitas ini mendukung terbentuknya generasi yang tidak hanya memahami kebijakan, tetapi juga mampu memberikan rekomendasi berbasis riset dan perspektif kebangsaan.

Penelitian oleh Della Porta dan Diani (2015) menegaskan bahwa partisipasi organisasi mahasiswa dalam wacana publik memperkuat posisi generasi muda sebagai aktor sosial yang relevan dalam proses kebijakan.

 

3.4    Moderasi Beragama dan Kohesi Sosial

Dalam menghadapi era global yang penuh dengan polarisasi identitas, moderasi beragama menjadi nilai penting untuk menjaga kohesi sosial. Hefner dan Zaman (2011) menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa Islam moderat dapat menjadi penyeimbang antara religiusitas dan demokrasi. IMM dengan akar nilai Islam Berkemajuan, menempatkan moderasi sebagai salah satu prinsip aksi. Ini relevan dalam konteks Indonesia Emas 2045 untuk menjaga harmoni keberagaman dan mencegah ekstremisme.

 

3.5    Kontribusi pada Kemanusiaan dan Solidaritas Sosial

Penelitian empiris tentang perilaku prososial mahasiswa menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aksi sosial berkorelasi dengan tingkat keterlibatan moral dan empati sosial (Eisenberg & Spinrad, 2014). IMM melalui kegiatan bakti sosial, program solidaritas komunitas, dan kemanusiaan menghadirkan bentuk nyata dari tanggung jawab moral generasi muda.

 

KESIMPULAN

Indonesia Emas 2045 adalah tujuan strategis bangsa yang menuntut sinergi antara kualitas SDM, pemerataan kesejahteraan, stabilitas sosial, dan kapasitas inovatif. Tantangan struktural seperti disparitas pendidikan, transformasi ekonomi, dan fragmentasi sosial memerlukan kontribusi semua elemen masyarakat — termasuk organisasi mahasiswa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui:

  1. Pembentukan kepemimpinan yang berkualitas dan bertanggung jawab.
  2. Pengembangan kewirausahaan dan ekonomi kreatif berbasis nilai.
  3. Partisipasi aktif dalam wacana kebijakan publik dan demokrasi.
  4. Penguatan moderasi beragama dan kohesi sosial.
  5. Aksi kemanusiaan yang mencerminkan solidaritas dan etika publik.

Sebagai kader yang memahami dinamika gerakan mahasiswa dan tantangan kebangsaan, penulis yakin bahwa IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Ia memiliki fondasi nilai yang kuat untuk menjadi architect of future leadership dalam sejarah Indonesia. Indonesia Emas 2045 bukan sekadar angka ambisi, tetapi cita-cita kolektif yang harus dimulai dari ruang-ruang kaderisasi, diskusi kritis, dan aksi sosial nyata. IMM memiliki modal tradisi, kapasitas intelektual, dan jaringan sosial yang kuat untuk memainkan peran tersebut secara transformatif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Astin, A. W. (1993). What matters in college? Four critical years revisited. Jossey-Bass.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2021). Rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020–2024. Bappenas.

Della Porta, D., & Diani, M. (2015). Social movements: An introduction (3rd ed.). Wiley.

DPP IMM. (2021). IMM di Era 4.0:Refleksi dan Harapan. Diva Press.

Eisenberg, N., & Spinrad, T. L. (2014). Multidimensionality of prosocial behavior. In C. A. Essau (Ed.), The handbook of prosocial behavior (pp. 15–32). Wiley.

Gorman, G., Hanlon, D., & King, W. (1997). Some research perspectives on entrepreneurship education, development and research. Journal of Business Venturing, 12(5), 337–353. https://doi.org/10.1016/S0883-9026(97)00009-3

Hefner, R. W., & Zaman, M. Q. (2011). Student politics in Indonesia: Islam, social change, and the state. Journal of Indonesian Islam, 5(1), 1–30. https://doi.org/10.15642/JIIS.2011.5.1.1-30

Maarif, A. S. (2008). Sejarah Muhammadiyah. Pustaka Masyarakat.

OECD & Asian Development Bank. (2020). Indonesia economic report 2020: Towards a more resilient economy. OECD Publishing.

Pascarella, E. T., & Terenzini, P. T. (2005). How college affects students: A third decade of research. Jossey-Bass.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.

Ratten, V. (2020). Entrepreneurship and innovation in social contexts. Routledge.

Tinto, V. (1997). Classrooms as communities: Exploring the educational character of student persistence. The Journal of Higher Education, 68(6), 599–623. https://doi.org/10.1080/00221546.1997.11779003

United Nations Development Programme. (2020). Human development report 2020. UNDP.

World Bank. (2021). World development report 2021: Data for better lives. World Bank Publications.

Xing, Y., & Marwala, T. (2017). Implications of the fourth industrial revolution on higher education. Journal of the World Universities Forum, 10(4), 5–13.

 

 


Share:

Baitul Arqom Muhammadiyah, Pentingnya Perkuat Perkaderan

 
















Baitul Arqom adalah kawah candradimuka perkaderan Muhammadiyah. Sejak awal, kegiatan ini dirancang bukan sekadar forum pelatihan, melainkan ruang pembentukan ideologi, visi, dan mental kader. Muhammadiyah memahami betul, tanpa kader yang militan, berilmu, dan berakhlak, persyarikatan akan kehilangan ruh perjuangannya.

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid yang telah berusia lebih dari seabad. Dalam rentang panjang itu, yang membuat Muhammadiyah tetap tegak adalah keberadaan kader. Mereka menjadi ujung tombak yang menggerakkan amal usaha, menghidupkan masjid, mengelola pendidikan, hingga melayani masyarakat melalui rumah sakit dan lembaga sosial.

Allah SWT mengingatkan pentingnya lahir generasi penerus yang menjaga nilai agama dan peradaban.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).

Ayat ini menegaskan, jangan sampai umat Islam meninggalkan generasi lemah, baik secara iman, ilmu, maupun mental. Di sinilah peran perkaderan menjadi sangat vital.

Baitul Arqom bukan forum biasa. Di dalamnya, kader Muhammadiyah diajak memahami kembali ideologi, paham agama, hingga strategi dakwah. Pemahaman ideologi ini menjadi benteng agar kader tidak mudah goyah oleh paham ekstrem, radikal, atau liberal yang menyimpang dari manhaj Muhammadiyah.

Seperti dikatakan KH. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini mengingatkan bahwa kaderisasi bukan jalan mencari keuntungan pribadi, melainkan sarana berkhidmat untuk umat.

Era digital menghadirkan tantangan baru. Anak muda Muhammadiyah harus siap berdakwah bukan hanya di mimbar masjid, tetapi juga di ruang virtual. Dakwah bil hal—melalui karya nyata di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial—menjadi ciri khas Muhammadiyah. Namun, tanpa kader yang cakap, dakwah ini bisa terhenti di tengah jalan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).

Hadis ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menekankan amal nyata. Baitul Arqom melatih kader agar siap menjadi pribadi yang memberi manfaat, bukan hanya pandai berteori.

Muhammadiyah tidak boleh kehilangan estafet perjuangan. Kader hari ini adalah pemimpin masa depan. Karena itu, Baitul Arqom harus dipandang sebagai agenda strategis, bukan sekadar kegiatan tahunan. Dari sinilah akan lahir pemimpin yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan sensitivitas sosial.

Perkaderan adalah ruh Muhammadiyah. Melalui Baitul Arqom, Muhammadiyah menyiapkan generasi penerus yang kokoh dalam iman, luas dalam ilmu, dan tulus dalam pengabdian. Semoga setiap kader yang mengikuti Baitul Arqom mampu membawa semangat baru: menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Share:

MENEGASKAN KEMBALI FALSAFAH GERAKAN IMM, MUSYCAB XLIII PC IMM KOTA SURAKARTA












Tanggal : Rabu, 11 Juni 2025

Tempat : Pendhapi Gede Sala, Balaikota Surakarta

Tema : “Kilau Jejak Pengabdian: Memetik Pembelajaran, Merancang Masa Depan”


Dalam forum Studium General pembukaan Musyawarah Cabang (Musycab) ke-43 PC IMM Kota Surakarta, IMMawan Abdul Afif Amrulloh menyampaikan tentang pentingnya IMM sebagai gerakan intelektual-religius yang responsif terhadap zaman. berbicara Manifesto Falsafah Gerakan IMM menuju IMM Masa Depan maka tidak jauh dari falsafah gerakan dan ideologi Muhammadiyah, karena IMM merupakan bagian dari Muhammadiyah dan itu ditekankan dalam Deklarasi Kotabarat yang di munculkan Munas IMM pertama di Solo atau sering kita kenal dengan istilah enam penegasan IMM. forum ini juga menjadi momentum menegaskan posisi IMM sebagai gerakan mahasiswa islam yang tidak hanya menjaga nilai-nilai ideologis Muhammadiyah tetapi juga mampu membaca dan merespon zaman dengan cerdas, kritis, dan solutif. Maka dari itu perlu adanya silaturahim ke berbagai pihak dalam rangka memetik pembelajaran sehingga IMM memiliki pandangan yang lebih luas dalam merespon dinamika isu yang ada dan tidak terjebak dalam informasi yang nir validitas dan mudah memberikan judgment yang ternyata tidak sesuai dengan fakta yang ada.

“IMM hari ini bukan hanya sekedar organisasi kader, ia adalah penjaga warisan nilai, pelopor dan penyempurna amanah peradaban. Maka, IMM tidak boleh redup di tengah arus pragmatisme politik dan kekosongan nilai,” tegas Afif.

Tiga Pilar IMM di Tengah Era Pasca Modern

IMMawan Afif menyoroti bahwa IMM harus bertumpu pada tiga fondasi utama:

1.Religiusitas : internalisasi nilai religius yang tidak hanya ritual, tetapi juga menjadi dampak untuk perubahan sosial.

2.Intelektualitas : IMM merupakan gerakan akademik yang harus membangun nalar kritis, bukan hanya berbicara mengenai intektual IMM saja namun juga intelektual tiap individu IMM dalam bidang studi disiplin ilmu masing-masing.

3.Humanitas : IMM harus terlibat dan menjadi bagian kegiatan-kegiatan sosial, bukan sekadar pengamat.


“Muhammadiyah tidak kehabisan kader. yang kita perlukan bukan sekedar tokoh populer, tapi kader ideologis yang lahir dari proses panjang perkaderan. sehingga kalau bisa dibilang di IMM ini mempelajari Muhammadiyah begitu panjang bisa dilihat dengan banyaknya kegiatan perkaderan yang dilakukan oleh IMM yang mana didalamnya selalu memuat nilai-nilai Muhammadiyah”. tegas Afif

Ketua DPD IMM Jawa Tengah yang diwakili IMMawan M. Fatahillah (Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat DPD IMM Jawa Tengah) dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musycab bukan hanya kontestasi dinamika politik pencalonan ketua umum tetapi juga titik refleksi terhadap orientasi gerakan IMM.

“Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah menitipkan salam kepada teman-teman IMM Kota Surakarta, selamat ber-musyawarah dengan hati gembira, jangan sampai residu Musycab berlarut-larut sampai akhir periode. IMM Solo seperti halnya kota solo, kalo kota solo memiliki tagline spirit of java, maka IMM Solo juga memiliki tagline Spirit of IMM. Karena di Solo ini salah satu cikal bakal IMM berdiri dan nilai-nilai ideologis IMM dilahirkan, maka dari itu IMM Solo harus terus melahirkan kader-kader intelektual-ideologis dan ide-ide berkemajuan untuk masa depan IMM Kota Surakarta”. Ujar Fatahillah dalam sambutannya.

Sementara itu, IMMawan Rivandy Azhari Harahap (Sekretaris Umum DPD IMM DIY) menyoroti tentang kapasitas kader IMM dalam berargumen dan berdialektika, bahwa jangan sampai kader IMM hanya berdebat tentang IMM yang bahkan tidak subtantif dan hanya selesai di tempat kopian saja. Perlu juga hasil diskusi perdebatan tersebut terdokumentasi dalam bentuk tulisan, karena itu merupakan bagian dari identitas IMM sebagai seorang intelektual. selain itu juga kader IMM perlu sering berbicara tentang diskursus akademik sesuai dengan kapasitas disiplin keilmuannya, tidak hanya berwacana tentang IMM saja. 

“Diskursus tentang disiplin keilmuan tiap individu perlu dikembangkan, sehingga kader IMM benar-benar mengerti tentang kapasitas ilmu akademiknya dan berbicara mengenai bidang studinya dalam menanggapi isu-isu yang ada, tidak hanya berputar diskursusnya tentang internal IMM”. Tegas Rivandy

Acara Studium General ini sebagai bagian awal dari rangkaian Musyawarah Cabang PC IMM Kota Surakarta ke-43, sekaligus langkah awal untuk mempersiapkan kepemimpinan baru, refleksi terhadap gerakan IMM Kota Surakarta dan membangun ide-ide baru untuk masa depan IMM. Acara ini juga dihadiri oleh Forkompimda Kota Surakarta, Kodim 0735 Kota Surakarta, Dispora Kota Surakarta, Kesbangpol Kota Surakarta, KNPI Kota Surakarta, KAMMI Surakarta, PMKRI Kota Surakarta, DPD IMM Jateng, DPD IMM DIY, PC IMM Klaten, PC IMM Sukoharjo, HW Kota Surakarta, Pimda Tapak Suci Kota Surakarta, Presiden Bem UMS, Ketua DPM UMS.



Share:

Manifesto Falsafah Gerakan Menuju IMM Masa Depan

 
















Oleh: IMMawan Abdul Afif Amrulloh S.Psi., M.Psi (Sekretaris Umum DPD IMM Jawa Tengah) disampaikan dalam Studium General Musycab PC IMM Kota Surakarta XLIII.

Tanggal : Rabu, 11 Juni 2025

Tempat : Pendhapi Gede Sala, Balaikota Surakarta

Tema      : “Kilau Jejak Pengabdian: Memetik Pembelajaran, Merancang Masa Depan”

Dalam forum Studium General pembukaan Musyawarah Cabang (Musycab) ke-43 PC IMM Kota Surakarta, IMMawan Abdul Afif Amrulloh menyampaikan tentang pentingnya IMM sebagai gerakan intelektual-religius yang responsif terhadap zaman. 

Berbicara Manifesto Falsafah Gerakan IMM menuju IMM Masa Depan maka tidak jauh dari falsafah gerakan dan ideologi Muhammadiyah, karena IMM merupakan bagian dari Muhammadiyah dan itu ditekankan dalam Deklarasi Kotabarat yang di munculkan Munas IMM pertama di Solo atau sering kita kenal dengan istilah enam penegasan IMM.

Forum ini juga menjadi momentum menegaskan posisi IMM sebagai gerakan mahasiswa islam yang tidak hanya menjaga nilai-nilai ideologis Muhammadiyah tetapi juga mampu membaca dan merespon zaman dengan cerdas, kritis, dan solutif. 

Maka dari itu perlu adanya silaturahim ke berbagai pihak dalam rangka memetik pembelajaran sehingga IMM memiliki pandangan yang lebih luas dalam merespon dinamika isu yang ada dan tidak terjebak dalam informasi yang nir validitas dan mudah memberikan judgment yang ternyata tidak sesuai dengan fakta yang ada.

“IMM hari ini bukan hanya sekedar organisasi kader, ia adalah penjaga warisan nilai, pelopor dan penyempurna amanah peradaban. Maka, IMM tidak boleh redup di tengah arus pragmatisme politik dan kekosongan nilai,” tegas Afif.

 Tiga Pilar IMM di Tengah Era Pasca Modern

IMMawan Afif menyoroti bahwa IMM harus bertumpu pada tiga fondasi utama:

1. Religiusitas : internalisasi nilai religius yang tidak hanya ritual, tetapi juga menjadi dampak untuk perubahan sosial.

2. Intelektualitas : IMM merupakan gerakan akademik yang harus membangun nalar kritis, bukan hanya berbicara mengenai intektual IMM saja namun juga intelektual tiap individu IMM dalam bidang studi disiplin ilmu masing-masing.

3. Humanitas : IMM harus terlibat dan menjadi bagian kegiatan-kegiatan sosial, bukan sekadar pengamat.

“Muhammadiyah tidak kehabisan kader. yang kita perlukan bukan sekedar tokoh populer, tapi kader ideologis yang lahir dari proses panjang perkaderan. sehingga kalau bisa dibilang di IMM ini mempelajari Muhammadiyah begitu panjang bisa dilihat dengan banyaknya kegiatan perkaderan yang dilakukan oleh IMM yang mana didalamnya selalu memuat nilai-nilai Muhammadiyah”. tegas Afif

Ketua DPD IMM Jawa Tengah yang diwakili IMMawan M. Fatahillah (Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat DPD IMM Jawa Tengah) dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musycab bukan hanya kontestasi dinamika politik pencalonan ketua umum tetapi juga titik refleksi terhadap orientasi gerakan IMM.

“Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah menitipkan salam kepada teman-teman IMM Kota Surakarta, selamat ber-musyawarah dengan hati gembira, jangan sampai residu Musycab berlarut-larut sampai akhir periode. IMM Solo seperti halnya kota solo, kalo kota solo memiliki tagline spirit of java, maka IMM Solo juga memiliki tagline Spirit of IMM. Karena di Solo ini salah satu cikal bakal IMM berdiri dan nilai-nilai ideologis IMM dilahirkan, maka dari itu IMM Solo harus terus melahirkan kader-kader intelektual-ideologis dan ide-ide berkemajuan untuk masa depan IMM Kota Surakarta”. Ujar Fatahillah dalam sambutannya.

Sementara itu, IMMawan Rivandy Azhari Harahap (Sekretaris Umum DPD IMM DIY) menyoroti tentang kapasitas kader IMM dalam berargumen dan berdialektika, bahwa jangan sampai kader IMM hanya berdebat tentang IMM yang bahkan tidak subtantif dan hanya selesai di tempat kopian saja. Perlu juga hasil diskusi perdebatan tersebut terdokumentasi dalam bentuk tulisan, karena itu merupakan bagian dari identitas IMM sebagai seorang intelektual. selain itu juga kader IMM perlu sering berbicara tentang diskursus akademik sesuai dengan kapasitas disiplin keilmuannya, tidak hanya berwacana tentang IMM saja.

“Diskursus tentang disiplin keilmuan tiap individu perlu dikembangkan, sehingga kader IMM benar-benar mengerti tentang kapasitas ilmu akademiknya dan berbicara mengenai bidang studinya dalam menanggapi isu-isu yang ada, tidak hanya berputar diskursusnya tentang internal IMM”. Tegas Rivandy

Acara Studium General ini sebagai bagian awal dari rangkaian Musyawarah Cabang PC IMM Kota Surakarta ke-43, sekaligus langkah awal untuk mempersiapkan kepemimpinan baru, refleksi terhadap gerakan IMM Kota Surakarta dan membangun ide-ide baru untuk masa depan IMM.

 

 

Share:

Sakit: Jalan Menuju Ampunan dan Kemuliaan





















Oleh : Andy Ratmanto, SH / Anggota Korps Mubaligh Muda Muhammadiyah Kota Surakarta

Sakit.

Satu kata yang sering membuat tubuh lemah, hati gundah, dan air mata jatuh tanpa diminta.

 Namun, di balik setiap rasa perih yang kita rasakan, sesungguhnya ada rahmat yang Allah sembunyikan dengan sangat indah.

Dalam Islam, sakit bukan sekadar ujian.

Ia adalah karunia dalam rupa yang berbeda.

Ia datang bukan untuk menghancurkan kita, tapi untuk membersihkan kita.

Ia hadir bukan untuk merendahkan, tapi justru untuk meninggikan.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Tidaklah menimpa seorang mukmin suatu kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.”

 (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap detak nyeri yang menusuk tubuhmu,

 Setiap malam yang kamu lalui dengan linangan air mata,

 Setiap keluh yang kamu tahan dalam diam, adalah penghapus bagi dosa-dosa yang mungkin telah lama menetap tanpa kau sadari.

Sakit itu melemahkan jasad, tapi justru menguatkan ruh.

Ia membuatmu lebih banyak berdoa, lebih dalam merenung, lebih peka terhadap kasih sayang Allah.

Ketika tubuhmu terbaring lemah, jiwamu sedang dilatih untuk kuat.

Ketika langkahmu terhenti, hatimu sedang dituntun menuju penghambaan yang lebih dalam.

Allah Swt tidak melihat derajat manusia dari sehat atau sakitnya, tapi dari bagaimana ia menyikapi ujian itu dengan sabar dan ridha.

 Maka, jangan pernah merasa hina karena sakit. Sebaliknya, yakinlah bahwa sakit yang kau alami bisa menjadi tangga menuju kemuliaan.

Mungkin dengan sakit, Allah ingin engkau lebih sering menyebut nama-Nya.

 Mungkin dengan sakit, Allah ingin engkau kembali pulang ke pangkuan-Nya.

 Dan mungkin, lewat sakit itu, Allah sedang menyapu bersih dosa-dosa dan mengangkatmu ke tempat yang lebih tinggi di sisi-Nya.

Sakit bukanlah kutukan. Ia adalah tanda bahwa Allah masih memperhatikanmu.

Ia adalah bukti bahwa Allah ingin kamu bersih saat kembali kepada-Nya.

Maka bersabarlah.

 Tangismu bukan sia-sia.

 Rintihmu tidak diabaikan.

 Di balik luka yang kau rasa, tersimpan pahala tak terkira.

Karena bagi orang beriman, sakit bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari keberkahan.

Share:

Keaslian Ijazah Pilar Integritas dalam Dunia Pendidikan dan Profesi





















 Judul : Keaslian ijazah pilar integritas dalam dunia pendidikan dan profesi

Oleh : Andy Ratmanto, SH / Anggota Majelis Hukum, HAM dan Kajian Kebijakan Publik PDM Kota Surakarta

Ijazah adalah simbol keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan formal. Dokumen ini tidak hanya menjadi bukti administratif, tetapi juga merupakan representasi dari ilmu, kerja keras, dan proses panjang yang telah dilalui seseorang di bangku pendidikan. Oleh karena itu, keaslian ijazah memegang peranan yang sangat vital dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari melanjutkan studi hingga memasuki dunia kerja.

Dalam proses rekrutmen tenaga kerja atau penerimaan mahasiswa baru, ijazah sering kali menjadi salah satu persyaratan utama. Perusahaan, lembaga pemerintahan, maupun institusi pendidikan bergantung pada keabsahan ijazah untuk menilai latar belakang akademik seseorang. Jika ijazah yang digunakan ternyata palsu, maka kredibiltas individu tersebut dipertanyakan, bahkan dapat mengarah pada tindak pidana pemalsuan dokumen.

Lebih dari itu, penggunaan ijazah palsu merugikan banyak pihak. Mereka yang bersungguh-sungguh menempuh pendidikan dengan jujur dan penuh perjuangan merasa dilecehkan. Institusi tempat bekerja pun bisa kehilangan reputasi jika tidak teliti dalam proses verifikasi. Dalam skala yang lebih luas, fenomena ini mencederai integritas dunia pendidikan dan profesionalisme.

Modus pemalsuan ijazah cukup beragam, mulai dari membuat tiruan fisik yang menyerupai ijazah asli, mencetak ijazah dari institusi yang tidak terakreditasi, hingga mencatut nama kampus ternama secara ilegal. Bahkan, dalam beberapa kasus, sindikat pemalsuan ijazah melibatkan oknum dari lembaga pendidikan itu sendiri.

Sebagai respon terhadap hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL). Sistem ini memungkinkan pihak-pihak berkepentingan untuk memverifikasi keaslian ijazah secara online berdasarkan data resmi yang dimiliki oleh Pusat Data dan Informasi Pendidikan.

Selain itu, institusi pendidikan kini dituntut untuk melakukan digitalisasi data akademik dan meningkatkan sistem keamanan dalam penerbitan ijazah. Sementara itu, para pengguna ijazah baik lulusan maupun pemberi kerja diharapkan lebih teliti dalam memeriksa latar belakang pendidikan.

Menjaga keaslian ijazah adalah tanggung jawab bersama. Individu harus menjunjung tinggi kejujuran dan tidak tergoda mencari jalan pintas. Institusi pendidikan wajib menjamin proses akademik berjalan dengan baik dan transparan. Sementara itu, masyarakat perlu terus diedukasi bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari selembar ijazah, melainkan dari kompetensi, etika, dan integritas.

Dengan menjaga keaslian ijazah, kita turut menjaga nilai dari proses pendidikan itu sendiri. Sebab setiap huruf dan angka yang tertulis dalam ijazah mewakili perjuangan, pengetahuan, dan tekad yang tidak bisa dipalsukan.

Share:

Catatan Kritis atas Forum AMM Surakarta dan Arah Dukungan Politiknya

 





















Oleh : Muhammad Fatahillah

(Kader IMM Jawa Tengah)

(Anggota MPKSDI PDM Kota Surakarta 2022-2027)


Pada Jumat, 16 Mei 2025 lalu, sebuah forum yang mengatasnamakan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dan turut mengundang Beberapa OKP Surakarta yang diselenggarakan di Balai Muhammadiyah Surakarta. Sebagai kader yang mengikuti dinamika kepemudaan dan gerakan civil society di Surakarta, saya melihat bahwa forum ini tidak sepenuhnya merepresentasikan AMM secara utuh. Justru yang tampak adalah keterlibatan beberapa organisasi otonom Muhammadiyah — seperti IPM, Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah — dalam memberikan dukungan kepada seorang calon yang, meskipun pernah bersinggungan dengan Muhammadiyah, tidak menjalani proses kaderisasi secara mendalam dan berkesinambungan.

Figur yang diusung memang pernah aktif di lingkungan Muhammadiyah. Namun, jika kita berbicara tentang kaderisasi dalam pengertian yang utuh, tentu tidak cukup hanya hadir dalam beberapa kegiatan atau mengikuti satu-dua rangkaian kegiatan. Kaderisasi dalam Muhammadiyah, apalagi yang menyasar lapis kepemimpinan, membutuhkan proses pembinaan, penempaan ideologis, dan keterlibatan yang konsisten. Tanpa itu, yang terjadi hanyalah pengakuan simbolik — atau dalam istilah kekinian, “Muhammadiyah Dadakan” (MUDA).

IMM, dalam hal ini, menunjukkan sikap yang patut dihargai. Mereka tidak serta-merta mengikuti arus dukungan dari ortom lain, justru mengambil posisi kritis atas dasar konsistensi ideologis. IMM memandang bahwa proses politik, apalagi yang mengatasnamakan Muhammadiyah, seharusnya berangkat dari semangat pembinaan kader yang jelas, bukan sekadar mendukung figur populer atau memiliki jaringan politik luar.

Kekhawatiran IMM bukan tanpa alasan. Dukungan terhadap figur eksternal yang tidak jelas akar ideologisnya dalam Muhammadiyah berisiko membuka ruang penyalahgunaan identitas. Label "kader Muhammadiyah" bisa saja digunakan untuk kepentingan politis, bahkan ketika yang bersangkutan tidak memiliki komitmen terhadap nilai-nilai gerakan. Dalam jangka panjang, ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap soliditas internal Muhammadiyah dan nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Forum yang diselenggarakan pada 16 Mei itu, secara tidak langsung, juga menciptakan preseden buruk: bahwa nama besar Muhammadiyah bisa dikomodifikasi untuk kepentingan jangka pendek. Padahal, Muhammadiyah memiliki barisan kader yang telah lama ditempa dalam berbagai jenjang organisasi, mulai dari IPM, Tapak Suci, HW, IMM, Pemuda Muhammadiyah, hingga ortom-ortom profesi. Keputusan ini seakan mencederai kehebatan Muhammadiyah dalam membina kader-kader tebaik.

Yang juga patut digarisbawahi adalah posisi IMM dalam menjaga marwah gerakan. IMM bukanlah organisasi yang anti-politik. Justru sebaliknya, IMM sangat sadar akan pentingnya keterlibatan kader dalam ruang publik, termasuk dalam kontestasi politik. Namun keterlibatan itu harus lahir dari proses kaderisasi yang matang dan membawa semangat dakwah serta perubahan sosial, bukan sekadar ambisi kekuasaan.

Ketegasan IMM dalam menolak keterlibatan dalam forum yang dianggap tidak sehat secara etis dan ideologis patut diapresiasi. Di tengah derasnya arus pragmatisme politik, sikap seperti ini menunjukkan bahwa masih ada kekuatan moral dalam tubuh gerakan pemuda yang tidak rela rumah besar Muhammadiyah dijadikan kendaraan politik praktis.

Dalam konteks ini, saya kira penting bagi semua pihak, terutama yang mengatasnamakan AMM, untuk kembali merefleksikan arah gerakan. Apakah kita masih berpegang pada semangat pembinaan kader dan nilai-nilai dakwah, atau sudah mulai tergelincir ke dalam politik transaksional? Apakah forum-forum yang digelar benar-benar untuk kemaslahatan bersama, atau hanya menjadi panggung dukungan bagi kepentingan tertentu?

Akhirnya, saya ingin mengingatkan bahwa Muhammadiyah dan ortom-ortomnya memiliki tanggung jawab moral dan historis dalam mencetak generasi pemimpin yang jujur, cakap, dan berintegritas. Jika kepercayaan terhadap proses kaderisasi internal mulai hilang, dan kita mulai mencari figur dari luar tanpa melalui jalan kaderisasi yang sah, maka sesungguhnya kita sedang mengalami krisis identitas dan kehilangan arah. Dan jika itu terjadi, maka yang dirugikan bukan hanya IMM atau Muhammadiyah — tetapi generasi muda Islam secara keseluruhan.

Share:

Mendidik anak dengan Ridlo Alloh Swt

 





















Mendidik anak dengan Ridlo Alloh Swt

Oleh : Andy Ratmanto, SH / Anggota Korps Mubaligh Muda Muhammadiyah PDM Surakarta

Assalamu alaikum warahmatullaahi wa barakatuh

Innal hamba lillaah nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa na’uudzu billahi min suruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudhlilhu falaa haadiya lah. Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadlirat Alloh Swt atas nikmat Islam, nikmat iman, nikmat sehat dan juga nikmat taqwa yang diberikan oleh Alloh Swt kepada kita semua. Salam serta shalawat kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. 

Mendidik anak dengan Ridlo Alloh Swt adalah tanggung jawab besar yang harus dilakukan dengan niat ikhlas, penuh kesabaran, dan kasih sayang. 

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan :

1. Menanamkan akidah yang kuat

Ajarkan anak tentang tauhid, bahwa Alloh Swt adalah satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Kenalkan mereka kepada sifat-sifat Alloh Swt melalui Al Quran dan Hadits.

2. Menjadi teladan yang baik

Anak belajar dari contoh orang tua. Tunjukkan akhlak mulia seperti kejujuran, kesabaran dan kesederhanaan. Selalu mengingat Alloh Swt dalam aktivitas sehari-hari.

3. Mengajarkan ibadah sejak dini

Bimbing anak untuk melaksanakan sholat, berdoa, dan membaca Al Quran. Jadikan ibadah sebagai bagian dari rutinitas keluarga.

4. Memberikan pendidikan akhlak

Ajarkan nilai-nilai seperti menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan bersikap rendah hati. Tekankan pentingnya menjauhi sifat-sifat buruk seperti iri, sombong, dan malas.

5. Menggunakan pendekatan yang lembut

Hindari mendidik dengan kekerasan, karena hal itu dapat menjauhkan anak dari nilai-nilai Islam. Berikan nasihat dengan penuh kasih sayang sesuai tuntunan Rasulullah Saw.

6. Mengajarkan pentingnya ilmu

Dorong anak untuk menuntut ilmu dunia dan akhirat, karena ilmu adalah kunci keberhasilan di dunia dan di akhirat. Perkenalkan mereka kepada kisah-kisah inspiratif dari para nabi, sahabat dan ulama.

7. Mendoakan anak

Selalu berdoa kepada Alloh Swt agar anak diberikan hati yang lembut, akhlak mulia, dan keberkahan dalam hidupnya. Amalkan doa yang di ajarkan Nabi Saw untuk anak-anak seperti : Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama. (Qs Al Furqan ayat 74)

8. Menjaga lingkungan yang baik

Pilih lingkungan pergaulan yang mendukung tumbuh kembang anak dalam ketaatan kepada Alloh Swt. Hindarkan anak dari pengaruh buruk media atau teman yang bisa merusak akhlaknya.

9. Mendidik dengan hikmah

Sesuaikan metode pendidikan dengan usia dan kemampuan anak. Berikan apresiasi atas kebaikan yang dilakukan anak agar mereka termotivasi untuk terus melakukan hal yang baik.

10. Tawakal kepada Alloh Swt

Setelah segala upaya dilakukan, serahkan hasilnya kepada Alloh Swt. Yakinlah bahwa Alloh Swt akan memberi yang terbaik untuk anak. 

Mendidik anak dengan Ridlo Alloh Swt adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh, in shaa Alloh anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sholeh/sholehah dan bermanfaat bagi umat.


Mendidik anak dengan Ridlo Alloh Swt memerlukan kesabaran, kasih sayang dan kebijaksanaan. 


Berikut beberapa prinsip dasar  dan tips mendidik anak :

Prinsip dasar

1. Mengenal dan memahami ajaran Islam

2. Menjadi teladan yang baik

3. Membangun hubungan yang harmonis

4. Mengajarkan nilai-nilai moral dan akhlak

5. Mendorong kebiasaan beribadah.

Tips mendidik 

1. Berikan kasih sayang dan perhatian

2. Ajarkan Al Quran dan hadits

3. Jadikan doa sebagai kebiasaan

4. Tanamkan rasa syukur dan sabar

5. Dorong anak untuk bertanya dan mencari ilmu

6. Berikan kesempatan untuk beribadah dan beramal

7. Hindari kekerasan dan kata-kata kasar

8. Berika reward dan pujian atas prestasi

9. Jadilah pendengar yang baik

10. Berdoa bersama anak.

Nilai-nilai Islam yang penting :

1. Iman dan takwa

2. Ilmu dan pengetahuan

3. Akhlak dan moral

4. Empati dan kesabaran

5. Kemandirian dan tanggung jawab

6. Kehormatan dan kesopanan

7. Persaudaraan dan kebersamaan.

Dukungan

1. Keluarga dan komunitas

2. Guru dan ustad

3. Konselor dan psikolog

4. Grup parenting Islam.

Dengan menerapkan prinsip dan tips di atas, kita dapat membantu anak kita tumbuh menjadi pribadi yang saleh, cerdas dan berakhlak baik. 

Semoga Alloh Swt memberkahi usaha kita semuanya. 

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Mengenai MPKSDI Solo

Email: mpksdimuhammadiyahsolo@gmail.com

YouTube MPSDI

Cari Blog Ini