MPKSDISOLO.COM - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta menggelar Pengajian Refreshing PDM Kota Surakarta pada Jumat (13/03/2026) di Aula Gedung Balai Muhammadiyah PDM Solo.
Kegiatan yang diikuti sekitar 470 peserta ini bertujuan untuk menyegarkan kembali semangat kader dalam berkhidmat di Muhammadiyah. Acara diawali dengan salat Tarawih berjemaah di Masjid Balai Muhammadiyah, kemudian dilanjutkan pengajian di aula yang dimulai sekitar pukul 20.15 WIB.
Perwakilan Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK SDI) PDM Surakarta, Suyanto, dalam sambutannya menjelaskan bahwa istilah refreshing pengajian dimaksudkan untuk menguatkan kembali semangat kader Muhammadiyah dalam bergerak melalui pengajian.
“Mengapa disebut refreshing pengajian? Karena Muhammadiyah itu gerakannya dari ngaji ke ngaji. Maka pengajian malam ini untuk me-refresh kembali semangat kita agar berkhidmat di Muhammadiyah dengan lebih bersemangat dan bergembira,” ujar Suyanto.
Sementara itu, Prof. Dai dalam ceramahnya mengangkat tema “Iman yang Membumi: Menjadikan Tauhid sebagai Energi Utama dalam Bermuhammadiyah dan Melayani Umat.” Ia menukil QS Ibrahim ayat 24–26 yang memisalkan iman seperti pohon yang baik.
Menurut Prof. Dai, pohon yang baik digambarkan memiliki akar yang kuat dan cabang yang menjulang tinggi, sebagaimana pohon kurma yang akarnya menembus bumi dan cabangnya berkembang dengan baik.
“Perumpamaan ini menggambarkan iman. Seorang mukmin yang sejati imannya menancap kuat di dalam hati, kemudian amal salehnya naik ke langit karena amal yang keluar dari orang beriman adalah amal yang diterima oleh Allah SWT,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa secara klasik iman dipahami sebagai tasdiq bil qalb (membenarkan dengan hati), diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan melalui amal saleh. Karena itu, iman yang benar harus membumi dalam tindakan nyata.
Prof. Dai juga mengaitkan perumpamaan tersebut dengan gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam dan gerakan tajdid harus memiliki akar tauhid yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa dalam aspek akidah dan ibadah, Muhammadiyah menekankan pemurnian dari praktik syirik, tahayul, dan bidah. Sementara dalam urusan duniawi, Muhammadiyah mendorong dinamisasi agar amal usaha seperti rumah sakit, sekolah, dan universitas mampu berkembang dan bersaing.
“Muhammadiyah adalah gerakan amal. Kalau gerakan amal, tidak banyak bicara tetapi banyak bekerja,” kata Prof. Dai, mengutip pesan tokoh Muhammadiyah KH AR Fachruddin.
Ia mencontohkan berbagai aksi nyata Muhammadiyah, seperti keterlibatan relawan dalam penanganan bencana melalui MDMC dan berbagai program sosial melalui Lazismu yang diterima luas oleh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dai juga menekankan pentingnya penguatan gerakan di tingkat cabang dan ranting sebagai ujung tombak Muhammadiyah.
Menurutnya, jika cabang dan ranting hidup dengan kegiatan pengajian, kaderisasi, dan penguatan amal usaha, maka gerakan Muhammadiyah akan terus berkembang hingga ke tingkat akar rumput.
Ia mengajak seluruh kader untuk menghidupkan masjid sebagai pusat solusi umat. Di Solo sendiri terdapat sekitar 153 masjid Muhammadiyah yang tersebar di tujuh cabang, yang menurutnya merupakan potensi besar bagi penguatan dakwah.
“Masjid harus dimakmurkan dan memakmurkan. Dari masjid kita bangkit. Apa pun masalahnya, masjid harus menjadi solusinya,” tegasnya.
Menutup ceramahnya, Prof. Dai menegaskan bahwa iman yang benar tidak cukup berhenti pada ibadah personal, tetapi harus melahirkan amal dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia mencontohkan gerakan KH Ahmad Dahlan yang mengkaji Surah Al-Ma’un hingga melahirkan gerakan sosial nyata sebagai wujud dakwah Muhammadiyah.
Pengajian tersebut ditutup dengan yel-yel semangat yang menggema di aula, antara lain “Ranting, itu penting!; Cabang, harus berkembang!, Masjid, makmur memakmurkan!, Muhammadiyah, sukses dunia sukses akhirat.!”
Penulis : Mafaza Haikal Ahmad
















